-
Don’t do what others say, just listen to them, but do what you feel good
warren buffet -
Greasemonkey
Add ons mozilla yang bisa buat utak atik halaman web kita pake java script.Mulai dari bikin halaman next langsung tampil di bawah atau bikin youtube embed video downloader. Lumayan buat memudahkan kita kalo lagi browsing
Scriptnya tinggal comot dari http://userscripts.org/
atau kalo mau bikin script sendiri bisa lihat di http://wiki.greasespot.net/Main_Page
-
(katanya) kata mereka tentang ITB
Berikut ini tulisan yang lagi hangat dibicarakan tentang ITB. Banyak pendapat yang terlontar masalah ini :
Sebenarnya saya cukup setuju dengan hal di atas, tapi saya ga suka dengan caranya mengutarakan maksud tulisan tersebut. Pertama, pemilik Blog mengutip apa adanya tanpa melalui redaksi dulu, memang ada kata pengantar tapi dia kan mengutip dan perannya moderator, paling ga cantumin Link atau sumber biar jelas. Lalu judulnya “mereka” (jamak) sedangkan sumbernya dari 1 orang. Kedua, oke memang diakui, sebagian mahasiswa ITB ada yang perangainya begitu, tapi ga semuanya juga. Beberapa komen bilang ini terlalu menggeneralisir mahasiswa ITB. saya setuju karena tulisan ini lebih berkesan “keluh-kesah” seorang head hunter tentang lulusan ITB ketimbang “kritikan” unutk anak-anak ITB. Ketiga, dari komen banyak yang bilang “wajar sombong” dan bilangnya anak ITB. Memang kehidupan ITB keras dan banyak tuntutan, memang ITB terdiri dari anak-anak yang berprestasi. Tapi jangan juga bilang “wajar sombong” di media yang notabene bisa dibaca siapa aja. Ini jadinya malah membangun asumsi bahwa, “oh,emang bener nih, komennya aja begitu”. Keliatan banget soalnya yang komennya membela ITB dari luar anak ITB sedikit sekali. Kebanyakan memojokkan dan malah menghina.
Saya bukannya ga setuju dengan tulisan ini, perlu diakui memang dengan adanya kritikan semacam ini kita jadi sadar kekurangan kita dan bisa lebih introspeksi, cuma ada baiknya yang begini agak berimbang lah, paling tidak bahasa penyampaian jangan cem bahasa jubir parpol di TV yang penginnya menyetir pandangan masyarakat. Lalu untuk yang komen, perlu hati-hati juga, jangan memandang yang beginian kaya tulisan ilmiah yang butuh data dll, konyol kalo ngomong begitu di Blog karena blog emang pendapat orang, jangan juga ikut-ikutan kena “setiran” dari orang yang pengin “menyetir” kita sehingga malah menjatuhkan citra yang maunya kita angkat dan perbaiki.
Kutipan kata-kata dari blog ini :
“Love your haters, they are your biggest fans. Why? Because they always waste their times just for notice your every wrong move.”Tapi jangan sampe terkenl karena di-notice semua yang jelek-jeleknya juga, nanti malah jadi kayak artis dangdut yang masuk infotainment di TV melulu gara-gara tukang cari sensasi
-
ITB palsu
belakangan ini orang lagi rame ngomongin kejadian “pembalut dan kancut ITB”
Terus saya sempet baca sebuah artikel yg dishare teman lewat twitter yg sangat “kiri” menanggapi ITB sekarang. Disitu disebutkan bahwa ITB era ini sudah berbeda jauh dengan ITB yang dulu. Entah karena tuntutan pendidikan yang semakin berat seperti bataswaktu lulus yang makin pendek atau karena uang masuk yang mahal membuat mahasiswa ITB saat ini notabene orang kaya yang tidak terlalu ngurusin masalah rakyat kecil. Maklum saja, mereka tidak mengalami kesulitan yg dialami oleh orang2 berekonomi menengah ke bawah. Di tulisan itu juga disebutkan dampak dihilangkannya KKN yg membuat interaksi mahasiswa dengan masyarakat semakin berkurang juga.
Tapi saya sendiri mengalami hal ini, kurangnya empati terhadap lingkungan di kalangan mahasiswa ITB memang sudah cukup parah. Beberapa waktu lalu pas saya naik angkot mau ke stasiun, pas saya naik ada seorang anak penjual sapu lidi. Dari rautnya tergambar jelas kelelahan sepanjang hari, matanya terpejam seolah menikmati istirahat sejenak di dalam angkot yang panas sebelum bekerja lagi. Beberapa waktu setelah itu masuk dua orang mahasiswi dengan logat sunda kental ngobrol bahasa indonesia. Mereka ngobrol dengan suara yang cukup keras buat didengar seangkot. Yang di omongin awalnya masalah dosennya, terus dari situ saya tahu mereka Mhs ITB TPB. terus dengan sambil ketawa terbahak2 dan masih suarakerasmereka ngobrol soal masakan2 pasta,soal pesta di temennya, soal Ipaddan gadget2 canggih lain,sampai si anak terbangun dan denger apa yg diomongin. Saya yang dari tadi merhatiin si anak ngeliat raut mukanya langsung ga enak. Mukanya keliatan mencibir seolah bilang “gw daritadibelum makan, jualan di terik siang mau istirahat bentar aja diganggu sama orang tajir”
Padahal simpel aja,cuma masalah ngecilin volume suara di area umum. Mungkin ini saya saja yng terlalu membesarkan, pikir saya. Tapi ternyata tidak. Semalam saya ngajak ngobrol tukang nasi goreng langganan yang sama2 orang jawa. Beliau jualan di disini dari tahun 80-an, era ITB jaya2nya. Pas beliau tanya saya kuliah dimana dan saya jawab ITB komentar beliau cukup miris : “Dulu anak kos sini ITB semua, ndak ada yang dari luar. Cuma ITB dulu sama sekarang beda, dulu ITB nya bersatu banget, akrab dan akur. Kalo yang sekarang ITBne ITB palsu. Cuma namanya aja ITB, tapi ga ada peduli-pedulinya sama oranglain. Sekarang mah lu-lu gue-gue”
Mendengar itu saya merasa lemas dan ga bisa ngomong apa-apa lagi. Saya pun bercermin, sampah macem apasaya ini sekarang!
-
terlalu lelah walau tuk sekedar bermimpi
-
Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa
(Catatan Seorang Demonstran, h. 101)”
― Soe Hok Gie -
Akunya Chairil
Akulah yang masih menyebut nama-Mu
Walau remuk hilang bentuk
yang dipanggang di atas apimu, yang digarami lautmu
pada zatku, kapal berlayar
pada uratku kapal bertolak dan berlabuh
Akulah yang terbaring antara krawang-bekasi
Tidak bisa teriak “merdeka” dan angkat senjata lagi
namun aku tetap suka mereka yang berani hidup
suka mereka yang masuk menemu malam
Aku mau bebas dari segala,merdeka
Juga dari Ida
Aku yang mengembara serupa Ahasveros
dikutuk-disumpahi eros
Tetap meradang menerjang
walau luka tetap berlari
Adalah aku, yang tidak peduli
Adalah aku, yang mau hidup seribu tahun lagi -
If i’ve given a second chance, maybe i’d just do the same mistake
Because different names different places but still the same ol’ me
Same song different chorus -
Slower than slow
Yang namanya berubah itu memang ga mudah. Kemungkinan tahun ini akan sama dengan tahun-tahun lalu. Hanya sedikit perubahan yang dicapai, details. Hey but even the smallest thing count isn’t it? Mungkin karena saya sudah terlalu lelah atau terlalu malas buat bermimpi. Seperti tinggal menerima keadaan saja dan tidak ada angan-angan yang tinggi. Mungkin bahkan saya sudah tidak percaya lagi bahwa Tuhan mendengar doa saya. Bukan Tuhan tidak mendengar doa, hanya doa saya yang tidak didengar. Tipikal pesimis kayak saya mungkin memang ga akan bisa nyampe ke sesuatu yang tinggi - tinggi amat.
Saya cuma berharap semoga ini semua cepat selesai dan berakhir, karena hidup yang terasa lambat dan kosong itu sangat menyiksa. Semoga say salah, semoga Tuhan masih mendengar doa saya
-
The young ones have the dream but not the wisdom, old ones have the wisdom but too old to dream
-
Posted on August 24, 2011 via Hidup Mahasiswa! with 189 notes
Source: fuckyeahmahasiswa
