-
ITB palsu
belakangan ini orang lagi rame ngomongin kejadian “pembalut dan kancut ITB”
Terus saya sempet baca sebuah artikel yg dishare teman lewat twitter yg sangat “kiri” menanggapi ITB sekarang. Disitu disebutkan bahwa ITB era ini sudah berbeda jauh dengan ITB yang dulu. Entah karena tuntutan pendidikan yang semakin berat seperti bataswaktu lulus yang makin pendek atau karena uang masuk yang mahal membuat mahasiswa ITB saat ini notabene orang kaya yang tidak terlalu ngurusin masalah rakyat kecil. Maklum saja, mereka tidak mengalami kesulitan yg dialami oleh orang2 berekonomi menengah ke bawah. Di tulisan itu juga disebutkan dampak dihilangkannya KKN yg membuat interaksi mahasiswa dengan masyarakat semakin berkurang juga.
Tapi saya sendiri mengalami hal ini, kurangnya empati terhadap lingkungan di kalangan mahasiswa ITB memang sudah cukup parah. Beberapa waktu lalu pas saya naik angkot mau ke stasiun, pas saya naik ada seorang anak penjual sapu lidi. Dari rautnya tergambar jelas kelelahan sepanjang hari, matanya terpejam seolah menikmati istirahat sejenak di dalam angkot yang panas sebelum bekerja lagi. Beberapa waktu setelah itu masuk dua orang mahasiswi dengan logat sunda kental ngobrol bahasa indonesia. Mereka ngobrol dengan suara yang cukup keras buat didengar seangkot. Yang di omongin awalnya masalah dosennya, terus dari situ saya tahu mereka Mhs ITB TPB. terus dengan sambil ketawa terbahak2 dan masih suarakerasmereka ngobrol soal masakan2 pasta,soal pesta di temennya, soal Ipaddan gadget2 canggih lain,sampai si anak terbangun dan denger apa yg diomongin. Saya yang dari tadi merhatiin si anak ngeliat raut mukanya langsung ga enak. Mukanya keliatan mencibir seolah bilang “gw daritadibelum makan, jualan di terik siang mau istirahat bentar aja diganggu sama orang tajir”
Padahal simpel aja,cuma masalah ngecilin volume suara di area umum. Mungkin ini saya saja yng terlalu membesarkan, pikir saya. Tapi ternyata tidak. Semalam saya ngajak ngobrol tukang nasi goreng langganan yang sama2 orang jawa. Beliau jualan di disini dari tahun 80-an, era ITB jaya2nya. Pas beliau tanya saya kuliah dimana dan saya jawab ITB komentar beliau cukup miris : “Dulu anak kos sini ITB semua, ndak ada yang dari luar. Cuma ITB dulu sama sekarang beda, dulu ITB nya bersatu banget, akrab dan akur. Kalo yang sekarang ITBne ITB palsu. Cuma namanya aja ITB, tapi ga ada peduli-pedulinya sama oranglain. Sekarang mah lu-lu gue-gue”
Mendengar itu saya merasa lemas dan ga bisa ngomong apa-apa lagi. Saya pun bercermin, sampah macem apasaya ini sekarang!
-
sufihamdanm reblogged this from cheeromatic and added:
Memang begitu adanya :((
-
tyasnugraheni reblogged this from laplume
-
laplume reblogged this from chachamaricha and added:
jadi takuutt.. wahhhh..
-
chachamaricha reblogged this from cheeromatic and added:
sebelah mana ya…
-
cheeromatic posted this
-